• scissors
    May 8th, 2012yosephyasmineMemahami Semesta

    Tak pernah terpikir oleh saya bahwa hal ini akan terjadi. Walau sederhana, beberapa kejadian ini tampaknya membuat saya berpikir untuk hati-hati dalam berpikir dan bertindak. Pernahkah membaca buku “Secret” yang ditulis oleh Rhonda Byrne ? Ya, buku yang tadinya saya jadikan pilihan kesekian untuk dibaca, ternyata mengubah pikiran saya selama ini. Saya menjadi begitu sangat berterima kasih karena entah tanpa sengaja saya mengambil buku tersebut di Perpus Sekip UGM untuk dipinjam dan dibawa pulang.

    Hal yang membuat saya terperangah adalah dari sekian saya membaca baris dibuku tersebut, saya mendapati bahwa Semesta begitu pekanya membaca pikiran saya sehingga apapun yang saya pikirkan, Semesta memberikan bahkan menariknya untuk saya. Pikiran apapun itu baik positif maupun negatif. Seiring bertambahnya niat saya untuk membaca buku selain Secret, yaitu Chicken Soup for The Soul : Menyingkap Rahasia Mewujudkan Cita-cita dimana disana memang lebih banyak cara untuk mengaplikasikan “Semesta” tersebut. Namun, point yang saya ingin bicarakan adalah keterperangahan saya mengenai Semesta yang lambat laun saya sadari benar adanya!

    Waktu kecil, saya banyak sekali bermimipi mempunyai, memiliki, mengalami sesuatu. Simple memang contoh berikut ini : saya suka sekali lihat bandara, sepertinya tempat disana itu memiliki sejuta kenangan bagi sebagian besar orang. Sudah diketahui, jika mau berpergian  jauh, bandara menjadi tempat akhir perpisahan bagi orang yang meninggalkan dan ditinggalkan.  Bandara merupakan tempat yang “awesome” bagi saya dan saya ingin bisa setiap saat pergi somewhere to someplace sesering mungkin. Kalau perlu punya member seperti GFF. Dan.. ternyata, setelah 10 tahun kemudian impian sederhana saya ini menjadi kenyataan. Saya pergi dari Yogyakarta ke Jakarta dan sebaliknya dengan pesawat. Hampir tiap bulannya atau tiap 2 minggu sekali. Lucu kalau saya mengingat-ingat ini…karena ini kelihatannya terlihat impossible bagi saya.

    Sayang sekali, saya belum berani menancapkan sebuah mimpi besar bagi saya agar semesta mengabulkannya. Saat ini saya sudah memiliki mimpi tersebut dan saya berharap Semesta tersenyum bersama saya seiring terkabulnya permohonan itu.

    Tetap berhati-hatilah sebab Semesta tidak tidur. Dia hidup dalam pikiran kita. Dia hidup untuk menyadarkan kita betapa pentingnya berhati-hati dalam berpikir :)

  • scissors
    January 11th, 2012yosephyasmineMemahami Semesta

    Kejadian ini menarik bagi saya. Terjadi saat KKN Semester 2011 Juli-Agustus kemarin di Labuhan Lombok, Lombok Timur.  Mengapa menarik ? karena saya mengalami kecelakaan motor untuk yang pertama kalinya ! (dan saya sangat berharap untuk terakhir kalinya).

    Saya belum terbiasa menggunakan transportasi tersebut jika tidak urgent sekali. Alasannya sederhana, karena orangtua saya melarang menggunakannya dan saya baru tahu ternyata inilah maksud mereka. Sakit fisik dan sakit mental.

    Waktu itu saya pergi dengan teman perempuan saya, berdua saja, ke sebuah pasar yang agak jauh dari pondokan. Saya ingat, ditengah-tengah perjalanan saya merasa FREE. Saya tidak perlu ngumpet-ngumpet untuk naik motor, tanpa sepengetahuan orangtua saya. Walau ada rasa bersalah juga karena membohongi beliau. Saya tersenyum sepanjang perjalanan menikmati angin yang menerpa tubuh dan wajah saya.

    Sampai di pasar, kami membeli segala kebutuhan sedemikan banyaknya. Waktu itu, saya berencana untuk melaksanakan beberapa program yang belum dikerjakan sehingga itu yang membuat saya juga mengambil banyak barang di pasar. Ditambah waktu itu kami juga membeli  hadiah-hadiah bagi para tetangga yang sudah begitu baik pada kami. Namun, bukan karena membawa barang sedemikan banyak itulah, kami kecelakaan. Melainkan takdir :) .

    Lalu kami pulang ke pondokan. Saya lupa menuliskan bahwa saya dibonceng. Sampai setengah perjalanan, saya merasa safety (karena semua berjalan lancar), namun tiba-tiba kami mendekati sebuah truk yang berada tepat dihadapan kami. Truk berisi pasir dan batu kerikil berjalan begitu lamban. Dan tiba-tiba pula saya ingin me-warning teman saya, saya tahu dia berniat untuk menyalip dari kanan. Tapi tidak jadi, entah mengapa mulut saya tertahan. Saya tahu truk itu ingin berbelok ke kiri, dan teman saya tidak fokus dengan pandangan dia kedepan karena berusaha menyalip itu. Namun terlambat…

    Kelambatan merespon dan jalanan aspal yang banyak pasir kecil-kecil membuat motor terpeleset karena rem dadakan. Saya terlempar dan teman saya tertindih motor. Saya merasakan kepala saya jaga agak tidak terantuk namun sedikit banyak saya akhirnya terantuk juga ke aspal. Setelah terlempar, saya terguling-guling. Menyadari saya berada ditengah-tengah jalanan, saya berjalan tertatih-tatih segera menuju ke pinggir. Helm saya dibantu dicopot oleh teman saya dan saya merasa terhuyung-huyung, merasakan pandangan saya agak kabur- berwarna gelap, biru, hijau, persis saat pertama kali melihat sinar. Persis pula ketika saya menderita cacar, penglihatan saya menjadi tidak sempurna. Tiba-tiba saya takut. Saya dibimbing oleh seorang ibu dimana kami terjatuh tepat di depan rumahnya. Dan ada seorang bapak yang saya sempat lihat meminggirkan motornya saat melihat kami terjatuh. Saya terluka cukup parah didekat mata kaki, luka yang cukup dalam-yang sampai sekarang masih terlihat bekasnya. Di lutut dan di sikut yang hanya terbaret-baret. Lutut terlindungi banyak karena saya menggunakan jeans.  Ibu itu memiliki semacam gazebo didepan rumahnya, saya dibaringkan disitu, diberi minum supaya tenang. Namun saya tidak bisa, pandangan kabur-kabur saya, menghitam, dan sebagainya benar-benar membuat saya takut saya terbentur cukup parah di tulang belakang yang menyebabkan saya buta atau apapun itu. Kecemasan saya bekerja…

    Dan disinilah saya sekarang, mengambil hikmah dari segalanya. Setelah melakukan rontgen, saya dinyatakan baik-baik saja. Banyak yang merawat sesudah kecelakaan ketika KKN disana, perhatian teman-teman terutama. Saat saya menulis blog ini, saya tahu 3 tujuan saya mendapat semua ini dari Yang Di Atas : (1) saya bersyukur karena saya masih diberikan perlindungan,kesembuhan dan kesehatan dari kecelakaan; ketika flashback muncul, saya memahami, andai waktu saya jatuh terguling ada kendaraan dari jalan berlawanan atau jalan lain, saya pasti sudah lebih parah daripada waktu itu. (2) saya sebaiknya tidak meremehkan nasihat orangtua saya. Ketika saya sampai pondokan, saya melihat tas saya yang robek-robek terkena goresan aspal dan men-check HP, ibu saya beberapa kali meninggalkan missed call. Ia merasakan saya mendapat musibah. Begitu dalam koneksi hubungan anak dan ibu ternyata. (3) saya tahu harga dari sebuah helm. Kemana-mana jika saya memang harus menggunakan motor, saya harus menggunakan helm. Hal itu juga membuat saya terus ingin mencereweti pacar saya tentang “jangan ngebut-ngebut di jalan, jangan lupa pakai helm” THEY ARE WORTH, TRUST ME !

    Best Regards from Bantul